Minangkabau dalam Buaian Masa Lalu
Oleh Rudi Hartono G***
Minangkabau sering diindentikan dengan wilayah kebudayaan. Kebudayaan tersebut berkembang di daerah inti yang dikenal dengan luhak nan tigo. Pada masanya, atau di mana kebudayaan dikatakan maju disebabkan karena kebudayaan itu bisa menjawab semua tantangan bagi manusia yang akan memakainya.
Dan Daerah yang mendapat pengaruhnya bukan dari lingkungan sekitarnya saja, tetapi sampai Negeri Sembilan (yang sekarang, Malaysia) juga mendapat pengaruh dari kebudayaan tersebut. Semua ini masih ada bukti yang nyata seperti nama suku yang terdapat di Nagari Sembilan. Nama dari suku Negeri Sembilan identik dengan nama Nagari yang terdapat di Luhak Tanah Data dan luhak 50 Koto.
Tetapi, setelah merdekanya Indonesia terjadi satu ide yang ingin menyeragamkan dalam semua hal termasuk kebudayaan dan semuanya itu bertumpu pada pusat (sentralistik). Hal tentu ini paradoks dengan semboyan yang sering dinyiang-nyiangkan selama ini bahwa “Indonesia itu berbeda namun tetap satu”. Tetapi semuanya terbantahkan bila melihat di lapangan dan semboyan bertukar menjadi “Indonesia untuk satu dan Indonesia hanya satu”. Hal ini bisa dilihat para era Orla (Orde Lama) dan khususnya Orba (Orde Baru)
Sebenarnya banyak ide yang ingin menentang hal di atas melalui ide-ide otonomi daerah dan desentaralisasi. Dalam hal ini orang Minangkabaulah pada awal tahun 1950-an menjadi pengerak (generator) dari ide tersebut, sebut saja M. Hatta, Natsir, Hamka, Ahmad Hussein dan lain-lain.
Ide-ide otonomi dan desentralisasi diangkat karena keinginan dari rakyat sendiri untuk memakai dan mengambil putra daerah yang berbakat dan tentu mempunyai potensi untuk memangku jabatan di daerahnya masing-masing atau yang lebih dikenal dengan gerakan PAD (Putra Asli Daerah).
Setelah berakhirnya, rejim Orba (Orde Baru), maka semua daerah kembali meneriakkan adanya otonomi bagi daerahnya masing-masing dan memberi seluas-luasnya hak untuk menjalankan dan mengembangkan potensi yang ada di daerahnya masing-masing.
Tetapi yang aneh yakni di Minangkabau, semangat tersebut entah hilang ke mana, orang Minang hanya berlomba-lomba meneriakkan kembali ke surau, kembali ke nagari. Padahal di tahun 1950-an orang di daerah inilah yang secara vokal meneriakkan penetangan terhadap sentralisasi.
Menurut para ahli salah satu penyebab yakni penyerucutan wilayah Minangkabau paska PRRI Daerah penghasil dana dimekarkan yakni Riau dan Jambi.
Tetapi penyecilan daerah administrasi ini juga bukan hal baru bagi orang Minang, seperti yang dilakukan oleh Belanda dan nama daerah ini pun diubah menjadi residen Sumatra’s Westkust.
Sedangkan bila melihat potensi SDA (Sumber Daya Alam) di alam Sumbar (baca: Minangkabau) awal tahun kemerdekaan, maka dapat dilihat sumbangan daerah (baca : Pulau Sumatera) untuk devisa negara tidak tanggung-tanggung yakni 75%.
Dan hasilnya akibat dari kemajuan dulunya, maka masyarakat Minangkabau sekarang ingin mengembalikan hal tersebut. Tak terkecuali kebudayaan yang telah lama hilang atau “mati suri” karena diganti dengan kebudayaan yang dipaksakan bagi semuanya.
Tetapi yang perlu dicurigai yakni apakah budaya yang sempat berkembang dan maju pada zamannya itu, masih bisa menjawab semua tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Minangkabau pada masa kini. Atau apakah ini hanya negeri utopis.
Bukankah surau yang tempat di mana semua laki-laki tinggal, sudah hilang diganti dengan nama musholla dan masjid. Ini bukan dari nama saja, tetapi fungsi juga berubah sedemikian rupa. Sedangkan, peran Mamak sebagai pelindung dan pengayom kemanakannya, telah beralih tangan oleh peran Bapak.
Buka Mata
Dalam setiap peradaban dan kebudayaan yang berkembang selalu ada saling mengisi satu dengan yang lainya. Setelah masa Romawi dan Yunani itulah runtuh zaman kegelapan (kata, sejarawan) muncullah Peradaban Islam yang menggantikan dan menambahkannya. Pada masa kenaikkan peradaban Islam semua karya dari Plato, Aristoteles diterjemahkan kembali dan Peradaban Islam juga mengembangkannya.
Di sini terlihat saling mengisi dan membuat kebudayaan yang telah ada di isi oleh kebudayaan baru dan menciptakan kebudayaan. Dengan demikian hasil dari semua ini bisa menjawab semua tantangan pada masanya. Kalau tidak demikian, maka apa yang kita rasakan sekarang ini mungkin lama sekali, atau tidak pernah akan dirasakan di masyarakat di dalamnya tertutup dengan kebudayaan yang baik walaupun, datang dari luar.
Sebenarnya, kebiasaan tersebut menerima kebudayaan luar yang bisa dipakai dan membuat kemajuan, sudah ada dalam kebiasaan masyarakat Minangkabau. Seperti kebiasaan merantau (esensi dari meratau) hakikat dari merantau bukan hanya untuk menambah pendapatan dari seorang perantau saja tetapi, dari segi pengetahuan. Maksudnya di sini para perantau yang telah melihat alam luar sana harus bisa transfer knowledge’s untuk kemajuan kampung halaman yang ditinggalkannya.
Tetapi entah kenapa hal tersebut tidak ada dilakukan oleh orang Minang belakangan ini. Ia hanya disibukkan oleh kebudayaan yang telah ada saja. Sedangkan pada kenyataanya budaya yang lama tersebut tidak bisa menjawab tantangan masa depan. Padahal sebagai mana yang diketahui, bahwa hakikat dari kebudayaan adalah proses dan proses tidak akan berjalan di tempat atau pun mati.
Atau mungkin benar, bahwa kebudayaan tersebut hanya untuk orang tua yang merasa klop, sedangkan anak muda yang akan memakai dan mengembangkannya merasa budaya telah ketinggalan zaman dan tidak menjawab tantangan hari ini.
Tetapi budaya tidak bisa berjalan sendiri, tanpa bantuan manusia yang akan memakai dan mengembangkan. Jadi ada baiknya masyarakat Minangkabau berani “melahap” kebudayaan dari sekeliling dan dari luar yang bermanfaat untuk kemajuan. Jangan berfikir universal cobalah kritis, bahwa tidak semua yang datang dari luar itu jelek.
Akhirnya, dengan jiwa besar mau menerima semua baik dari mana pun, Minangkabau kita akan menciptakan kembali kebudayaan yang telah besar dulunya. Dengan sedikit perubahan yang akan membuat budaya Minangkabau besar bahkan melebihi budaya yang lalu. Hal ini bisa saja terjadi karena zaman sekarang semua bisa dilakukan dengan cepat.
(Tulisan ini pernah diterbitkan harian Singgalang)
*** Rudi Hartono G mahasiswa Ilmu Sejarah.