Program Kongkret Mampu Merangsang Pemilih Rasional
Oleh : Rudi Hartono ***
Terlepas dari makin baiknya hasil debat capres putaran kedua, dan mulai terlihat perbedaan gagasan antarsatu dan lain. Namun tidak dapat disembunyikan dan dipungkiri masih adanya kekecewaan tentang belum hadirnya suatu forum mampu membedah program capres yang akan terpilih secara dalam.
Idealnya debat bukan hanya menghadirkan tiga pasangan capres, penyampaian visi, misi dan program aksi ke depan bila terpilih, namun lebih dari itu, mampu menghadirkan suatu pencerahan, pembelajaran politik bagi semua masyarakat Indonesia yang akan memilih sehingga muara dari semua itu mampu merangsang lahir dan bertambahnya para pemilih rasional baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Debat ketiga ada baiknya, perlu sebuah gebrakan radikal yang tujuannya sesuai dengan substansi dari debat itu sendiri. Dan untuk itu perlu terjadi pertambahan dan perubahan format debat diantaranya. Pertama, perlu pemangkasan waktu. Ini bukan hanya tentang pemangkasan waktu penyampaian visi capres, namun yang terpenting waktu jedah yang selalu dikritik dan wajib dipotong pendek sehingga waktu tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk melihat secara jernih mana capres yang berkualitas disamping substansi dari debat terpenuhi.
Kedua, hadirkanlah seorang ataupun dua orang tamu istimewa sebagai sosok rahasia yang nanti bertugas mengejar jawaban-jawaban para kandidat saat dijajal pertanyaan yang sifatnya standar oleh moderator, sehingga makin menggali, mengekplorasi visi, misi, program-program aksi capres.
Diharapkan tamu istimewa ini diberi waktu yang lebih luas oleh moderator dari perubahan pertama untuk mengejar visi, misi, program-program putra-putri terbaik bangsa. Tentu tamu harus dirahasiakan dan dijaga kerahasiaannya sampai debat berjalan sehingga terlepas dari tekanan para capres ataupun tim sukses capres.
Kita dapat bercermin dari debat capres di Amerika Serikat. Moderator debat capres diberikan kepada seorang wartawan yang mempunyai rekam jejak dan reputasi yang tak perlu dipertanyakan lagi sehingga ia mampu menggali, mengekplorasi visi, misi dan program aksi yang kongkret dari capres (Sindo, 30 Juni 09).
Tentu kita tak perlu mencontoh seratus persen format debat capres Amerika. Siapapun boleh, profesi apapun bisa. Namun yang terpenting ia mampu menghadirkan hakikat dari debat capres seutuhnya.
Hasil dari dua perubahan itu, bukan hanya menghadirkan tontonan, pembelajaran politik yang mendidik dari putra-putri terbaik bangsa tentang cara berdemokrasi yang baik namun secara substansi debat sebagai referensi para pemilih hadir dan makin merangsang lahir dan berkembangnya para pemilih rasional.
Dengan demikian ke depan muara dari debat capres, makin besarnya kuantitas dan kualitas para pemilih rasional yang terlepas dari alasan-alasan primodial untuk menjatuhkan pilihannya. Semoga.
*** Mahasiswa Ilmu Sejarah Unand, Padang.