Gaptep
Oleh : Ira Mariani
Zaman makin canggih, dan teknologi pun kian berkembang namun ternyata masih ada kutemui orang yang “gaptep” alias gagap teknologi. Aku terheran-heran menyaksikan betapa antusiasnya para remaja, baik itu pelajar, mahasiswa kecanduan dengan teknologi yang satu ini. Malahan, aksesoris mereka lebih canggih dari pejabat tinggi misalnya HP, seiring berkembangnya HP terutama Nokia, Sony Erikson, dan Motorola. Kelihatannya, kerap kali digandrungi oleh para remaja. HP yang baru belum rusak diganti lagi dengan HP yang lebih canggih. Di sudut-sudut kampus dan sekolah-sekolah kita temui anak-anak yang menciptakan gank alias kelompok katakanlah Fexa, Brit, Celo, dan Cleo. Mereka dikenal sebagai geng miss fantasi alias suka dengan musik-musik western, dan emang sih mereka suka gonta ganti Hp, kayak gonta ganti baju (bukan bermaksud sirik), tetapi menurutku kebiasaan seperti itu sama sekali nggak menunjukkan sikap intelektual (wuih, masa sih).
Semenjak pertama kali aku melangkahkan kaki di Universitas Y, yang kabarnya sangat terkenal seantero Sumatera ini. Aku melihat sosok yang menurutku terlalu centil dan pasang aksi dihadapan para cowok, ya, The Fantasi gils, mendengar namanya aja bikin perutku mual. Kuakui dia terlalu mengoda setiap sudut mata lelaki yang memandangnya, meski dia centil tetapi ternyata kemampuannya tidak dapat diremehkan. Brit punya suatu kegemaran, yaitu gonta-gani HP tiap tahun atau tiap bulan. Ia dan teman-temannya selalu menempatkan “ friendship of life” yaitu seiya, sekata dalam berbagai aspek kehidupan. Diantara teman-temannya Cleo termasuk teman yang dipercaya, apabila dia ada masalah dengan pacarnya, pasti Brit akan menceritakan semuanya dan Cleo memberi solusi.
Brits fans berat sama “Britney Spears “ yang terkenal dengan “ Do something, Baby one more time-nya” bahkan saking sukanya ama Britney, ia rela merauk kocek demi sang idola. Makanya, dia diberi gelar Brit ( lo kok ngawo ngidul)*
Awal tahun pertama di kampus Y, yang selalu diberi gizi tugas-tugas kampus oleh dosen-dosen. Meskipun Cleo n the genk korban teknologi (Handphone= Prokem*), sayangnya dia tidak mengerti dengan internet, padahal untuk aplikasi data dibutuhkan sekali internet yang hampir setiap waktu diperlukan.
Pada suatu hari, Brit n the genk mendapat tugas kelompok dari dosen, dan mereka diwajibkan mencari data dari internet. Amat mencegangkan memang, saat Cleo mengetahui ternyata….” Lo, gaptep, padahal kan pemilik warnet , owa la” katanya. Bahkan menggunakan internet dan meng-klik situs-situs, mulai browsing, surfing, on-line, watching*, anything lah, nggak ngerti?, so apa artinya lo duduk di bangku kuliah. Hanya untuk gaya-gayaan doang, kita hidup untuk mencari ilmu bukan untuk gaya-gayaan. Ilmu adalah modal dasar, meskipun kamu berada dalam kasta paling rendah. Karena, kekayaan yang paling berharga dibandingkan harta adalah ilmu. Kata orang Inggris, knowledge is power (sok Inggris, lo).
Saat pengumpulan tugas dimulai, hati dak dik duk kayak gendang ditabuh. “ Pak, maaf saya tidak bikin tugas….mmm karena saya nggak bisa pake internet” katanya sumbrigah. “ hari gini, nggak bisa internet?, masa sih, setahu gue lo kan punya internet”. Namun, memang amat mencengangkan kalau zaman sekarang kita masih menemui orang-orang yang gagap ama teknologi.
Hidup, memang aneh kalo ternyata pemilik warnet yang amat mewah alias luxurious itu gaptep. So, buat apa bangun warnet kalo nggak ngerti internet, mulai dari menformat, transfer data, dan lain sebagainya. Makanya, belajar bok biar otak lo itu encer alias tidak telat mikir (telmi=prokem*).
Note
Ngawo ngidul: tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan
Prokem: istilah dalam berbahasa, dialek
Surfing, browsing, waching: media yang dipakai dalam me-klik data
On-line: chating lansung, dengan media (web-cham)
Memories on rental net. (S.I / 06)