jangan kau pikir,aku berada dalam abad lain, melayang di mana kata lebih kuat dari keyakinan (Wannofri Samry)

Archive for the ‘politik’


Mengejar Esensi dari Berdemokrasi

Oleh : Rudi Hartono ***

Banyak yang berpendapat bahwa hanya pemilihan legistatif dan pemilihan RI 1 dan 2 yang sudah berlalu beberapa hari ini adalah akhir dari serangkaian pesta rakyat sekali lima tahun ini. Namun, bagi kita yang sudah mengerti esensi dari berdemokrasi, maka menjaga hasil pilpres adalah salah satu instrumen vital yang wajib dijaga, dilindungi dan diawasi oleh segenap kekuatan bangsa.

Hasil pilpres adalah representrasi dari suara tuhan, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan). Jadi bila suara tuhan ini diselewengkan yang diwakili oleh suara rakyat, maka akan jadi apa bangsa ini?

Terlepas dari siapa yang menang, sekali atau dua putaran dan banyaknya dugaan kecurangan, namun menjaga hasil pilpres adalah kewajiban segenap bangsa. Dan ini tentu menjadi sebuah warisan berpolitik yang berharga dalam berdemokrasi bagi generasi selanjutnya sehingga sejarah yang ditinggalkan bisa menjadi referensi terdepan dan akurat.

Bila hasil pilpres tidak dijaga sebagaimana selayaknya, maka kejadian ini jelas mencederai sistem demokrasi yang ke-11 tahun yang sudah dijaga dengan berbagai tantangan dan resiko yang telah dihadang.

Tentu, pujian dan penghargaan dari bangsa lain sebagai “negeri mayotitas muslim yang sukses menggelar demokrasi” bukan membuat kita berbangga dan lupa daratan. Namun dibalik itu semua, tersimpan sebuah tanggung jawab besar bagi bangsa ini untuk menjaga dan mengembangkan demokrasi ke depan.

Menurut Ulf Sundahussen sistem demokrasi mengandung dua prinsip: kekebasan dan persamaan (Tamrin : 2005). Prinsip ini tidak hanya kita lihat secara linear namun ini bisa menjelaskan bahwa kita bisa menjaga dan melindungi sistem ini dengan segenap kemampuan yang kita punya lewat dua prinsip dasar demokrasi ini.

Dalam keadaan ini ada baiknya kita mengembangkan sikap kritis. Sikap kritis di sini mengisyaratkan sebuah usaha yang pro-aktif dari setiap warga negara dalam menjaga, melindungi dan menggiring hasil pilpres bukan menjadi warga negara yang re-aktif, selalu menunggu dan menunggu.

Dan tentunya, usaha menjaga hasil pemilu pilpres tidak kita tempuk ke pundak Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat atau Daerah. Memang KPU sebagai pihak atau institusi resmi yang mempunyai wewenang khusus yang telah diatur dan dikuatkan oleh undang-undang no 22 tahun 2007 tentang penyelenggara pemilihan pemilu, namun kita sebagai orang warga negara yang baik mempunyai kewajiban menjaga, melindungi dan mengawasi itu semua.

Akhirnya dengan segenap kekuatan bangsa, kita tidak hanya larut dan terbuai dengan pujian dan penghargaan dari bangsa lain, namun esensi dari berdemokrasi yakni menjaga suara rakyat dalam pilpres dapat tercapai. Semoga.

*** Mahasiswa Ilmu Sejarah

Program Kongkret Mampu Merangsang Pemilih Rasional

Oleh : Rudi Hartono ***

Terlepas dari makin baiknya hasil debat capres putaran kedua, dan mulai terlihat perbedaan gagasan antarsatu dan lain. Namun tidak dapat disembunyikan dan dipungkiri masih adanya kekecewaan tentang belum hadirnya suatu forum mampu membedah program capres yang akan terpilih secara dalam.

Idealnya debat bukan hanya menghadirkan tiga pasangan capres, penyampaian visi, misi dan program aksi ke depan bila terpilih, namun lebih dari itu, mampu menghadirkan suatu pencerahan, pembelajaran politik bagi semua masyarakat Indonesia yang akan memilih sehingga muara dari semua itu mampu merangsang lahir dan bertambahnya para pemilih rasional baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Debat ketiga ada baiknya, perlu sebuah gebrakan radikal yang tujuannya sesuai dengan substansi dari debat itu sendiri. Dan untuk itu perlu terjadi pertambahan dan perubahan format debat diantaranya. Pertama, perlu pemangkasan waktu. Ini bukan hanya tentang pemangkasan waktu penyampaian visi capres, namun yang terpenting waktu jedah yang selalu dikritik dan wajib dipotong pendek sehingga waktu tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk melihat secara jernih mana capres yang berkualitas disamping substansi dari debat terpenuhi.

Kedua, hadirkanlah seorang ataupun dua orang tamu istimewa sebagai sosok rahasia yang nanti bertugas mengejar jawaban-jawaban para kandidat saat dijajal pertanyaan yang sifatnya standar oleh moderator, sehingga makin menggali, mengekplorasi visi, misi, program-program aksi capres.

Diharapkan tamu istimewa ini diberi waktu yang lebih luas oleh moderator dari perubahan pertama untuk mengejar visi, misi, program-program putra-putri terbaik bangsa. Tentu tamu harus dirahasiakan dan dijaga kerahasiaannya sampai debat berjalan sehingga terlepas dari tekanan para capres ataupun tim sukses capres.

Kita dapat bercermin dari debat capres di Amerika Serikat. Moderator debat capres diberikan kepada seorang wartawan yang mempunyai rekam jejak dan reputasi yang tak perlu dipertanyakan lagi sehingga ia mampu menggali, mengekplorasi visi, misi dan program aksi yang kongkret dari capres (Sindo, 30 Juni 09).

Tentu kita tak perlu mencontoh seratus persen format debat capres Amerika. Siapapun boleh, profesi apapun bisa. Namun yang terpenting ia mampu menghadirkan hakikat dari debat capres seutuhnya.

Hasil dari dua perubahan itu, bukan hanya menghadirkan tontonan, pembelajaran politik yang mendidik dari putra-putri terbaik bangsa tentang cara berdemokrasi yang baik namun secara substansi debat sebagai referensi para pemilih hadir dan makin merangsang lahir dan berkembangnya para pemilih rasional.

Dengan demikian ke depan muara dari debat capres, makin besarnya kuantitas dan kualitas para pemilih rasional yang terlepas dari alasan-alasan primodial untuk menjatuhkan pilihannya. Semoga.

*** Mahasiswa Ilmu Sejarah Unand, Padang.