jangan kau pikir,aku berada dalam abad lain, melayang di mana kata lebih kuat dari keyakinan (Wannofri Samry)

Archive for the ‘Uncategorized’


                                                          “Pertanyaan” Nasionalisme

                                                           Oleh : Rudi Hartono G***

  Mengkaji masalah nasionalisme (paham cinta tanah air) diberbagai negara sesungguhnya hal yang mengasikkan dan menghentakkan. Bagaimana hasil baik, maka itu berita baik, tetapi ternyata hasil kurang baik tentu menakutkan.  

Bila ditarik ke bawah tentang nasionalisme pada negara berkembang seperti Indonesia  tentu mengalami pasang surut pasang-naik. Ia bisa “naik” sewaktu negara bisa dibanggakan dan sebaliknya bila bisa dibanggakan (dalam berbagai hal), maka tentu akan turun, dan kalau itu berlangsung lama, maka itu gawat dan penguasa harus belajar mendengar (Solo, Widji Toekul) 

Namun sekarang masalah cita-cita yang tertuang dalam undang-undang  jauh panggang dari api. Rakyat jauh dari makna sejahtera. Sehingga, di dalam masyarakat terjangkit “virus” yang berakibat denasionalisme. Dan hilangnya tersebut tentu tidak dengan cara sihir namun keadaan ini menjelaskan suatu proses yang panjang dari kegagalan demi kegagalan bangsa ini. 

Sekarang kata nasionalisme dijadikan sebuah kata benda yang disakralkan dan dirayakan dengan acara tipis makna. Sebenarnya kata nasionalisme harus diletakkan menjadi kata kerja, sehingga bila diletakkan dalam kata kerja ia akan terus berproses ke arah yang lebih dan makin  baik. 

Namun yang dicurigai yakni adalah nasionalisme dari orang bawah (orang kebanyakan). tentu ungkapan “jangan pikirkan apa yang diberikan pada negara kepada kita tetapi, apa yang diberikan kita pada negara”. Orang kebanyakan menginginkan kebalikan dari jargon di atas. 

Ditambah gencarnya permintaan dan hasutan dari luar dengan iming-iming materi yang melimpah didukung oleh  pengawasan yang longgar di Indonesia sehingga niat yang ada semakin kokoh berdiri karena kesempatan yang berbuka lebar. 

Usaha Pemerintah

 Masih ingatkah kita sebuah iklan Pertamina (Perusahaan Tambang Milik Negara) yang berbunyi “kita untung bangsa untung”. Tentu dengan ungkapan slogan ini tentu tersirat suatu himbauan yang mengandung nasionalisme. 

Tentu bila diarahkan kepada isu nasionalisme ini, terlihat atau sudah dideteksi oleh perusahaan milik negara, bahwa rakyat sudah tak mencintai atau menurunkan kecintaan pada negara ini. Sehingga, dengan iklan ini diharapkan semoga nasionalisme rakyat kembali.  

Negara juga tidak mau lepas tangan dengan keadaan ini. Beberapa tahun yang lalu kita ingat dan rasakan bagaimana di media nasional membicarakan bagaimana peta perbandingan kekuatan kita dengan negara tetangga yakni Malaysia. Dalam kasus tersebut disebutkan bahwa pihak Malaysia dianggap telah melanggar daerah kedaulatan NKRI, sehingga rakyat dan segenap warga negara meneriakan “ganyang Malaysia”. 

Dalam kasus ini dan bila dikaitkan dengan isu melemahnya nasionalisme orang kebanyakan tentu cocok. Dan dengan ini didukung oleh gencar berita di media, maka bisa mengakibatkan nasionalisme yang sempat tertidur pulas atau tergadaikan kembali terbangun atau ditebus. 

Dengan dua kasus ini saja terlihat bahwa nasionalisme sudah rapuh dan menjadi mitos. Dan pemerintah dan perusahaan milik negara sudah menditeksi ini. Namun, kalau hanya dengan slogan dan insiden itu ke itu saja,  yang menjadi “generator” pengerak nasionalisme, maka jelas ini bersifat pendek. Naik, di saat isu berkembang dan riuh rendah bila isu itu tak hangat.  

Sehingga untuk menjawab itu semua diperlukan perubahan dari segala elemen. Pertama mulai dari elite harus bisa menjadi figur yang menjadi panutan dan menghentikan budaya koruptif yang menjadi ukuran apakah ia cinta pada tanah air ini. Kedua, rakyat kebanyakan harus melihat secara objektif (apa adanya) bahwa sekarang sudah terlihat kemajuan walaupun  geraknya samar namun pasti.  

Setelah ini berjalan dengan baik, maka nasionalisme dari semua elemen bangsa ini tubuh dan berbuah manis. Dan inilah yang kita harapkan semua. Semoga.

 *** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Indonesia , Universitas Andalas.